Semangat baru, prasangka baru,
mindset baru, strategi baru, baju baru, sepatu baru, jam baru, tas baru,
partner baru, motor baru, mobil baru dan lainnya yang menurutmu baru.
Semuanya kau persiapkan untuk
menyambut rutinitas yang akan kau jumpai lagi bukan ?
Ya, rutinitas yang akan segera
memadati ruang gerakmu, mengambil alih pikiranmu dan mengerahkan tenagamu. Tapi
aku mohon jangan memberatimu pikiranmu dengan semua itu karna segalanya telah kau sambut
dengan pembaharuan kan? Dengan penuh suka cita dan iringan hati yang mengharu biru untuk
mempersiapkan ini itu...seharusnya kau tetap tenang. Semoga kau begitu!
Aku tau, sesuatu yang baru suatu
saat akan berhadapan dengan titik jemu, titik dimana yang ‘baru’ itu tak lagi
terlihat seperti dulu. Dimana yang ‘baru’ itu sudah tak membara seperti di awal
waktu.
Lantas jika sudah begitu mau kau
apakan lagi? Kau ganti dengan yang baru atau kau pertahankan semampumu?
Bagiku, yang baru akan tetap baru
dan harus segera diperbarui lagi kala ia kian meredup, semangat misalnya. Ia
tak bisa kau beli dengan mudah jika sudah mulai meredup seperti barang-barang
lain yang sudah usang. Semangat tak bisa kau cari kemanapun, ia takkan pernah
kau temui karna ia tak terjual terpisah dari hati dan tekadmu.
Jangan mencari sesuatu yang sudah
kau miliki kawan! Ia tak pernah pergi, selalu ada di dalam dirimu, hanya saja mungkin
kau tak menyadarinya bahwa ada yang selalu ingin dibangkitkan.
Aku ingin kau seperti utopia yang
dikatakan seorang penyair, sebuah titik yang ketika kau berada disebuah
horison, titik itu berada sepuluh langkah dihadapanmu, setiap kali kau
mendekatinya sepuluh langkah, titik itu akan menjauh sepuluh langkah dan ketika
kau berusaha menggapainya seribu langkah, titik itu selalu menjauh sebanyak
langkah yang kau ambil.
Begitulah utopia yang akan
membuatmu semangat untuk bertahan menggenggam segala yang ‘baru’ yang telah kau
miliki.
Hidup terlalu sempurna untuk
sekedar dirayakan dengan hal-hal yang baru, jika hatimu masih saja terbelenggu
dengan balada kemalasan.
Bagiku, Inti dari segala yang
baru adalah menjaganya hingga batas terjauh agar tak pernah pudar. Selebihnya
terserah kau mau mengartikannya bagaimana...
Semoga yang baru selalu terlihat
baru kapanpun dan dimanapun ia berada, dimanapun ia diletakkan, karena yang baru berinti dari hati yang hanya terlihat oleh mata hati.
Semoga yang baru akan tetap baru
tak kenal kata jemu....
Semangat baru, teruntukmu
semester baru #5 ^^/
Allahu yubaariklii :)
Teruntuk kamu, diri sendiri.
Rawamangun, 28 Agustus 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar